A. Pengertian Epistimologi
Epistimologi atau teori pengetahuan. Epistimologi
berasal dari bahasa yunani ”episteme” dan logos ”episteme” artinya pengetahuan (knowledge),
”logos artinya teori. Dengan demikian epistimologi secara etimilogis berarti
teori pengetahuan. Epistimologi
atau teori pengetahuan merupakan cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat
dan lingkup pengetahuan, pengadaian-pengandaian, dan dasar-dasar nya serta
pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Sedangkan pengetahuan pada hakikatnya adalah
keadaan mental (mental state)mengetahui sesuatu ialah menyusun pendapat tentang
sesuatu itu, dengan kata lain menyusun gambaran dalam akal tentang fakta yang
ada di luar akalObjek
material Epistimologi adalah pengetahuan, sedangkan objek formalnya adalah
hakikat pengetahuan, setiap filsuf menawarkan aturan yang cermat dan terbatas
untuk menguji berbagai tuntutan lain yang menjadikan kita dapat memiliki
pengetahuan.
Persoalan-persoalan penting yang di kaji dalam
Epistimologi berkisar pada masalah: asal-usul pengetahuan, peran pengalaman dan
akal dalam pengetahuan. Semua pengetahuan hanya di kenal dan ada di dalam pikiran
manusia. Tanpa pikiran pengetahuan tak akan eksis. Oleh karena itu keterkaitan
antara pengetahuan dengan pikiran merupakan sesuatu yang kodrati.
Baru pada abad ke-5 SM, muncul
keraguan terhadap adanya kemungkinan itu, yang meragukan akan kemampuan manusia
mengetahui realitas adalah kaum Sophis. Para Sophis bertanya, seberapa jauh
pengetahuan kita mengenai kodrat
benar-benar merupakan kenyataan objektif. Apakah kita mempunyai
pengetahuan mengenai kodrat sebagaimana adanya? Sikap skeptis inilah yang
mengawali munculnya Epistimologi.
Filsafat bacon mempunyai peran penting dalam metode
dan sistematisasi prosedur ilmiah. Menurut Russel, dasar filsafat nya
sepenuhnya bersifat praktis, yaitu untuk mrmberi kekuasaan pada manusia atas
alam melalui penyelidikan ilmiah, sikap khas bacon mengenai ciri dan tugas
filsafat tampak paling mencolok dalam Novum Organum .Pengetahuan dan kuasa
manusia didekatkanya satu sama lain .
Umat manusia ingin menguasai alam, tetapi menurut
bacon, keinginan itu tidak tercapai sampai pada zamanya hidup. Hal itu kerena
ilmu-ilmu pengetahuan tak berdaya guna dalam mencapai hasilnya, sementara itu
logika tidak dapat di gunakan untuk mendirikan dan membangun ilmu pengetahaun.
Sementara bagi DESCARTES
(1956-1650), persoalan dasar dalam filsafat pengetahuan bukan bagaimana kita
tahu, tetapi mengapa kita dapat membuat kekeliruan) salah satu cara untuk menentukan sesuatu yang pasti dan tidak
dapat diragukan ialah dengan melihat seberapa jauh hal itu bias diragukan. Bila
kita secara sistematis mencoba meragukan sebanyak mungkin pengetahuan kita, ahirnya
kita akan mencapai titik yang tak bias diragukan sehingga pengetahuan kita
dapat di bangun diatas kepastian absolute
Seperti diketahui berfikir adalah kegiatan mental
yang menghasilkan pengetahuan. Sedangkan metode ilmiah merupakan ekspresi
mengenai cara bekerja pikiran. Dengan cara
bekerja ini maka pengetahuan yang dihasikan diharapkan mempunyai karaktristik
karaktristik tertentu yang di minta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat
rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunya
merupakan pengetahuan yang dapat di andalkan
B.
Metode Untuk Memperoleh Pengetahuan
Keadaan tidak tahu itu dapat mengambil dua buah bentuk
·
Tidak mempunyai pengetahuan begitu saja
·
Memiliki kesesatan
Karena sudah jelas bahwa mungkin kita mempunyai
pengetahuan yang sejati, maka kita dapat mengajukan pertanyaan” Bagaimanakah
caranya kita meperoleh pengetahuan? “kita ketahui ada beberapa cara atau metode untuk memperoleh pengetahuan, diantaranya;
1.
Empirisme
Seorang empirisme biasanya berpendirian, kita dapat
memperoleh pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan di peroleh dengan
perantaraan indera, kata seorang penganut Empirisme, JHON LOCKE, bapak
Empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya
merupakan sejenis buku catatan yang kosong, dan didalam buku catatan itulah di
catat pengalaman-pengalaman inderawi.
Ia memandang akal sebagai sejenis tempat
penampungan, yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Itu
berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat di lacak kembali sampai
kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama, yang dapat di ibaratkan
sebagai atom-atom yang menyusun obyek-obyek material.
Empirisme radikal yang berpendirian semua
pengetahuan dapat dilacak sampai kepada pengalaman inderawi, dan apa yang tidak dilacak. Secara demikian itu di anggap bukan
pengetahuan. Dinamakan penganut “Empirisme Radikal”
(atau penganut ”sensasionalisme”). Meskipun diantara mereka ada yang mengatakan
kita dapat mengetahui suatu corak pengetahuan yang dapat dikembalikan kepada
penginderaan, sekalipun dikatakan pola bahwa hal itu bukanlah menyangkut
pengetahuan mengenai Eksistensi.
Pengalaman tiada lain merupakan akibat suatu obyek
yang merangsang alat inderawi, yang secara demikian menimbulkan rangsangan
syaraf yang diteruskan ke otak. Di
dalam otak sumber rangsangan tadi di pahami sebagai mana adanya, atau
berdasarkan atas rangsangan tersebut dibentuklah tanggapan-tanggapan mengenai
obyek yang telah merangsang alat inderawi tadi.
Menurut penganut empirisme, begitulah pengetahuan terjadi.
2.
Metode Rasionalisme
Tidak begitu mudah membuat definisi tentang
rasionalisme sebagai suatu metode memperoleh pengetahuan Rasionalisme
berpendirian, sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme
mengingkari nilai pengalaman paling-paling di pandang sebagai sejenis
perangsang bagi pikiran para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan
kesesatan terletak kedalam ide kita, dan bukanya didalam diri barang sesuatu.
Jika kebenaran (dan ipso tacto, pengetahuan) mengandung makna mempunyai ide yang
sesuai dengan atau yang merujuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat
ada didalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
Rasinalisme sebagai pengetahuan Deduktif. Descartes, bapak rasionalisme continental, berusaha
menemukan suatu kebenaran yang tidak dapat diragukan, yang dari padanya memakai
metode Deduktif dapat disimpulkan semua pengetahuan kita. Bahwa
kebenaran-kebenaran dikenal dengan cahaya yang terang dari akal budi sebagai
hal-hal yang tidak dapat diragukan.
Secara demikian akal budi di pahamkan:
· Sebagai sejenis perantara
khusus yang dengan perantara tersebut dapat dikenal kebenaran
· Sebagai suatu teknik deduktif
yang dengan memakai teknik tersebut dapat ditemukan kebenaran-kebenaran,
artinya dengan melakukan penalaran.
3.
Metode Fenomenalisme
Ajaran Kant
Filsuf Jerman abad ke-18, Kant
melakukan pendekatan kembali terhadap masalah diatas setelah memperhatikan
kritik-kritik yang dilancarkan oleh Hume terhadap
sudut pandang yang bersifat rasional.
Indera hanya dapat memberikan data indera, dan data
itu ialah warna, cita rasa,bau, rasa, dan sebagainya. Memang benar, kita
mempunyai pengalamaan; tetapi sama benarnya juga bahwa untuk mempunyai
pengetahuan (artinya menghubungkan hal-hal) maka kita harus keluar dari atau
menembus pengalaman kata Kant. Bagaimana kah mungkin
ini terjadi? Jika dalam memperoleh pengetahuan itu tidak di peroleh melalui
pengalaman, melainkan di tambahkan pada pengalaman.
Kant membuat uraian lebih lanjut tentang pengalaman
barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri (das ding an sich)
merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk
di hubungkan sesuai dengan kategori-kategori pengalaman, dan disusun secara
sistematis dengan jalan penalaran.
Bagi Kant para penganut empirisme benar bila berpendapat
bahwa semua pengetahuan di dasarkan pada pengalamaan meskipun benar hanya untuk
sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan
bentuk-bentuk nya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
4.
Metode Intuisionisme
Kita mudah tidak merasa puas terhedap penyelesaian
yang duanjurkan oleh kant, karena penyelesaian
tersebut mengatakan bahwa pada babak terahir kita hanya mengetahui modifikasi
barang sesuatu dan bukanya barang sesuatu itu sendiri dalam keadaanya yang
senyatanya. Jelaslah bahwa jawaban-jawaban terhadapnya untuk sebagian di
tentukan ileh uraian yang telah diberikan tentang asal mula pengetahuan. Kita
sudah pasti tidak dapat mengetahui lebih daripada apa yang di mungkinkan oleh
kemampuan-kemampuan untuk memperoleh pengetahuan. Batas-batas pengetahuan di
tentukan oleh jenis-jenis alat yang kita gunakan untuk memperoleh pengetahuan.
Pengetahuan Diskursif dan pengetahuan intuitif. HENRY BREGSON,
seorang filsuf perancis modern, berpegang pada perbedaan tersebut .Pengetahuan
diskursif di peroleh melalui pengunaan symbol-simbol yang mencoba mengatakan
kepada kita mengenai sesuatu dengan jalan berlaku sebagai terjemahan bagi
sesuatu itu.
Intuisi mengatasi sifat lahiriah pengetahuan
simbolis, yang pada dasarnya bersifat analitis, dan memberikan kepda kita
keseluruhan yang bersahaja, yang mutlak tanpa sesuatu ungkapan, terjemahan atau
penggambaran secara simbolis.
5.
Metode Ilmiah
Perkembangan ilmu-ilmu alam merupakan hasil
penggunaan secara sengaja suatu metode untuk memperoleh pengetahuan yang
mengabungkan pengalaman dan akal sebagai pendekat bersama, dan menambahkan
suatu cara baru untuk menilai
penyelesaian-penyelesaian yang di sarankan, dari banyak diantara uraian kita
sampai sejauh ini, kata mungkin telah merasakan bahwa kesulitan yang di hadapi
oleh filsafat adalah filsafat tidak bersifat ilmu.
Metode ilmiah mengikuti prosedur-prosedur tertentu
yang sudah pasti yang dipergunakan dalam usaha memberi jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang dihadapi oleh ilmuan
Maslah menghubungkan kejadian-kejadian secara
sistematis. Di sini kita dapat melihat
unsur pertama di dalam metode ini: sejumolah pengamatan (artinya
pengalaman-pengalaman) yang di pakai sebagai dasar untuk merumuskan suatu alas
an. Metode ilmiah di mulai dengan pengamatan-pengamatan dan sebagai mana kita
lihat, berahir dengan pengamatan-pengamatan, tetapi permulaan danahir ini. Tetapi
permulaan dan ahir ini hanyalah merupakan pembagian yang bersifat nisbi.
Hipotesa, bila ada suatu masalah dan sudah di
ajukan suatu penyelesaian yang mungkinkan, maka penyelesaian yang di usulkan
itu dinamakan “HIPOTESA” jadi, Hipotesa ialah usulan penyelesaian yang berupa
saran sebagai konsekuensinya harus dipandang bersifat sementara dan memerlukan
venfikasi.
Ramalan (prediction) kajian terhadap hipotesa
dimulai dengan pengamatan yang dilakukan secara hati-hati, sistematis, dan
secara tertentu. Jika mungkin, seorang ilmuan harus mempersiapkan
segala-galanya bagi pengamatan-pengamatan yang dilakukan.
Jika pengamatan-pengamatan itu menunjukan apa yang
oleh hipotesa diramalkan akan terjadi, berarti bahwa hipotesa tersebut mendapat
dukungan. Salah satu diantara sifat-sifat yang penting dari metode-metode itu
adalah metode tersebut mengajukan syarat yang sangat sederhana.
Sifat yang menonjol dari metode ilmiah adalah digunakanya
akal dan pengalaman disertai dengan sebuah unsure baru, yaitu hipotes. Bila
suatu hipotesa dikukuhkan kebenarannya oleh contoh-contoh yang banyak
jumplahnya, maka hipotesa tersebut kemudian dapat dipandang sebagai hukum.